Selasa, 05 Oktober 2010

Hubungan Gaya Kepemimpinan, Efektivitas Komunikasi dan Pengambilan Keputusan dengan Kinerja Pamong Belajar SKB di Sulawesi Selatan

Oleh: Muhammad Fahruddin
(Kepala SKB Ujung Pandang Kota Makassar)

Abstracts

The aims of this study is to find the correlation of leadership style, communication effectiveness and decisiĆ³n making toward nonformal teachers’ performance at SKB in South Sulawesi province. There are six samples of SKB, including 97 respondents. This study is a quantitative study which in used a survey design. The result of study showed that the highest score among the variables is communication effectiveness (24.34%). Next scores are decisiĆ³n making (13.86%) and leaderships style (12.20%). It means that for the heads of SKB, in order to increase the nonformal teachers’ performance, they should care much on how to build an effective communication towards staffs.

Key words: correlations, leadership style, communication effectiveness, decision making and performance.


Pendahuluan

Dalam keseluruhan kegiatan pendidikan, pendidikan diarahkan pada upaya pengembangan dan peningkatan potensi yang dimiliki individu secara optimal menjadi kemampuan nyata sesuai dengan bakat dan minatnya. Pendidikan senantiasa berhubungan dengan manusia, dimana manusia berfungsi sebagai subjek. Joni (1991) menyatakan bahwa membicarakan soal pendidikan, mestinya terkait didalamnya membicarakan hakekat manusia sebagai pelaksana ataupun sasarannya.
Melalui upaya pendidikan diharapkan adanya peningkatan kualitas manusia atau masyarakat Indonesia melalui penguasaan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi). Peningkatan kualitas manusia Indonesia ataupun peningkatan sumberdaya manusia Indonesia pada kenyataannya perlu terus ditingkatkan. Dimana kita telah berada pada era globalisasi yang mengandung makna hilangnya batasan antar wilayah antar negara sebagai implikasi kemajuan teknologi komunikasi dan informasi. Era ini secara konotatif mengandung arti kerjasama disamping persaingan di berbagai sektor kehidupan tidak terkecuali sektor pendidikan. Indonesia yang memiliki kedudukan strategi di antara bangsa lainnya mau tidak mau akan terlibat didalamnya. Dalam kaitan itu maka bangsa yang akan mengambil peran penting di dalam situasi tersebut adalah bangsa yang memiliki keunggulan dalam penguasaan IPTEK. Oleh karena itu Salim (1991) menegaskan bahwa untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia utamanya dalam penguasaan IPTEK antara lain ditempuh melalui pendidikan.
Demikian pentingnya pendidikan ini maka dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 1 dinyatakan dengan tegas bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu, pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa Indonesia. (Pasal 4 ayat 1)
Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan (Pasal 6 Ayat 1). Selanjutnya Satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan. Tenaga kependidikan pada jalur pendidikan formal disebut guru dan dosen sedangkan pada jalur pendidikan nonformal disebut pamong belajar, instruktur, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator.
Pada saat ini, kita dihadapkan pada kondisi yang sangat memprihatinkan kalau dilihat dari tantangan global yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Hal ini tergambar dari hasil survey yang dilakukan oleh The Political and Economic Risks Consultancy (PERC) yang berkedudukan di Hongkong, dimana kualitas pendidikan di Indonesia untuk tingkat Asia berada pada urutan 12 di bawah Vietnam. Kemudian berdasarkan data yang dipublikasikan oleh United Nation Development Programme (UNDP) yang berjudul Human Development Index (HDI) dari 174 negara di dunia, Indonesia berada pada peringkat 102, pada tahun 1989 turun menjadi peringkat 105 dan tahun 2000 turun peringkat lagi menjadi 109, satu tingkat di bawah Vietnam. Sementara beberapa negara tetangga peringkatnya lebih baik seperti Singapura peringkat 34, Brunai Darussalam peringkat 36 Thailand peringkat 52, dan Malaysia peringkat 53 (Jalal, 2006).
Berdasarkan sajian fakta tersebut di atas hendaknya pembangunan di bidang peningkatan kualitas sumber daya manusia perlu mendapat perhatian yang serius dari pemerintah kalau kita tidak ingin terus terpuruk dan tertinggal jauh dengan bangsa-bangsa lain. Hal yang dapat dilakukan adalah dengan memperhatikan peningkatan kualitas pendidikan dari semua jalur, jenjang, jenis dan satuan pendidikan yang ada.
Sebagaimana pada jalur pendidikan formal guru sangat memegang peranan penting terutama dalam meningkatkan mutu pembelajaran, sedangkan pada jalur pendidikan nonformal yang sebelumnya dikenal dengan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) pamong belajar sebagai tenaga fungsional memiliki peran, tugas dan tanggung jawab yang sangat besar dalam rangka meningkatkan kualitas dan mutu layanan pendidikan nonformal sebagai bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa secara keseluruhan.
Suatu tuntutan yang harus direspon oleh pamong belajar adalah mengenai mutu layanan pendidikan nonformal yang masih jauh dari harapan jika dibandingkan dengan pendidikan formal, tentunya hal ini akan berkaitan dengan kinerja dan profesionalisme pamong belajar itu sendiri dengan tugas pokok dan fungsi yang diembannya. Tugas pamong belajar adalah menjabarkan dan mengoperasionalkan program Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) di daerah-daerah sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing daerah tersebut.
Pamong belajar adalah pegawai negeri sipil dalam lingkungan departemen pendidikan dan kebudayaan yang diberi tugas, tanggungjawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk mengubah dan mendidik warga belajar melalui pendidikan luar sekolah (SK Menpan No.127/MENPAN/1989:2) Pamong belajar sebagai tenaga fungsional di bidang pendidikan, khususnya pedidikan luar sekolah (nonformal), telah memenuhi kualifikasi akademik dan jabatan guru sehingga mereka diharapkan menjadi tenaga edukatif yang dapat diandalkan dalam menangani tugas-tugas pada Sanggar Kegiatan Belajar.
Tugas pamong belajar pada hakekatnya menyangkut tugas memberi bimbingan, mengajar dan melatih calon tutor dan warga belajar sebagai tugas utama. Sedangkan menurut Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah Pemuda dan Olahraga (1999:6-7), merincian tugas pamong belajar sebagai tenaga fungsional di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) yaitu: (1) pemberian motivasi dan bimbingan kepada warga masyarakat agar mau dan mampu menjadi tutor, fasilitator, pembina, pelatih dan instruktur dalam kegiatan Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olahraga (sejak persiapan, pelaksanaan, pemantauan, sampai evaluasi); (2) pembuatan percontohan program kegiatan Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olahraga (sejak persiapan, pelaksanaan, pemberian penyuluhan/bimbingan, sampai dengan pemantauan dan evaluasi); (3) pengendalian mutu pelaksanaan program Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olahraga (sejak persiapan, pelaksanaan, evaluasi, sampai dengan tindak lanjut); (4) pengadaan sarana belajar muatan lokal program Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olahraga (sejak persiapan, pelaksanaan, pemantauan, sampai evaluasi); (5) pengintegrasian dan penyingkronisasian kegiatan-kegiatan sektoral di bidang Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olahraga; (6) pendidikan dan pelatihan tutor, fasilitator, pembina, pelatih dan instruktur dalam kegiatan Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olahraga (sejak persiapan, pelaksanaan, pemantauan, sampai evaluasi); dan (7) penyusunan bahan pelayanan informasi perkembangan kegiatan Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olahraga.
Sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan pendidikan nonformal ditengah-tengah masyarakat, pamong belajar dituntut memiliki kinerja yang baik. Sementara untuk mencapai peningkatan kinerja para pamong belajar tentunya harus didukung oleh suasana kerja dan kepemimpinan yang baik pula yang diperankan oleh kepala Sanggar Kegiatan Belajar. Kepala SKB merupakan pemimpin tertinggi pada lembaga Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan pada Kabupaten/Kota. Dimana gaya kepemimpinannya sangat berpengaruh dan menentukan bagi peningkatan kinerja dan kompetensi pamong belajar yang bersangkutan. Oleh karena itu dalam eksistensi dan perkembangan peran lembaga SKB saat ini, kepemimpinan kepala sanggar perlu mendapat perhatian yang serius. Hal ini penting karena kepala SKB dituntut untuk dapat menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik sebagai pemimpin pendidikan khususnya pendidikan nonformal, sehingga orang yang dipimpinnya dalam hal ini pamong belajar dan pegawai lainnya dapat bekerja dengan prima guna mencapai tujuan institusi/lembaga yang telah ditetapkan. Seorang pemimpin dalam menjalankan tugas kepemimpinannya memiliki faktor pendukung. Faktor pendukung itu menurut Sergiovanni (dalam Karmadi, 2003:3) yaitu: (1) ke-pribadian yang kuat, (2) memahami tujuan pendidikan dengan baik, (3) pengetahuan yang luas, dan (4) keterampilan profesional.
Sementara menurut Gorton (1991:319) bahwa pemimpin pendidikan merupakan sosok yang mengorganisasikan sumber-sumber daya insani dan sumber-sumber fisik untuk mencapai tujuan organisasi pendidikan secara efektif dan efisien. Peranan utamanya adalah mengembangkan dan mengimplementasi-kan prosedur dan kebijaksanaan pendidikan yang dapat menghasilkan efisiensi pelaksanaan pendidikan. Kalau dianalisis pendapat Gorton tersebut, maka dapat memperkuat teori bahwa kepemimpinan kepala lembaga dapat berdampak terhadap kinerja pegawai (pamong belajar).
Berbagai permasalahan yang dihadapi oleh pamong belajar dalam menjalankan tugas profesionalnya sebagai hasil penelitian Santosa (1992), Kastum (1998) dan Anden (2003), ditemukan berbagai permasalahan yang teridentifikasi berhubungan dengan pamong belajar seperti; terbatasnya kemampuan pamong belajar, kurang dipahaminya tugas-tugas kepamongan pamong belajar, kurangnya disiplin kerja, kurang adanya hubungan harmonis antara pamong belajar dengan kepala SKB, kurang adanya transparansi dalam penggunaan anggaran SKB, kurang adanya motivasi untuk berprestasi bagi pamong belajar, terbatasnya jumlah pamong belajar, kurang dilibatkannya pamong belajar dalam pengambilan keputusan, adanya sikap apatis atau masa bodoh para pamong belajar terhadap pekerjaannya, kurang terjalinnya komunikasi yang efektif antara pamong belajar dengan kepala SKB, rendahnya tingkat kesejahteraan pamong belajar, kurang harmonisnya hubungan antara pamong belajar dengan staf administrasi dan berbagai permasalahan lainnya.
Permasalahan yang dihadapi oleh pamong belajar tersebut di atas apabila tidak segera ditangani akan berdampak pada pelaksanaan tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) mereka. Hal tersebut bukan hanya berdampak pada kinerja pamong belajar, akan tetapi juga berdampak pada kinerja lembaga SKB secara keseluruhan. Oleh karena itu perlu adanya upaya pengkajian dari permasalahan yang ada, terutama permasalahan yang diperkirakan paling berpengaruh terhadap kinerja.
Berdasarkan pada latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka rumusan masalah pokok penelitian ini adalah Bagaimana Hubungan Gaya Kepemimpinan Kepala Sanggar, Efektivitas Komunikasi dan Pengambilan Keputusan dengan Kinerja Pamong Belajar Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) di Sulawesi Selatan?
Permasalahan
Rumusan masalah pokok tersebut di atas dapat dirinci menjadi sub-sub masalah sebagai berikut:
1. Apakah ada hubungan yang signifikan antara gaya kepemimpinan kepala sanggar dengan kinerja pamong belajar SKB di Sulawesi Selatan?
2. Apakah ada hubungan yang signifikan antara efektivitas komunikasi dengan kinerja pamong belajar SKB di Sulawesi Selatan?
3. Apakah ada hubungan yang signifikan antara pengambilan keputusan dengan kinerja pamong belajar SKB di Sulawesi Selatan?
4. Apakah ada hubungan yang signifikan antara gaya kepemimpinan kepala sanggar, efektivitas komunikasi dan pengambilan keputusan secara bersama-sama dengan kinerja pamong belajar SKB di Sulawesi Selatan?
Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan serta memperoleh gambaran menyeluruh tentang hubungan antara gaya kepemimpinan kepala sanggar, efektivitas komunikasi dan pengambilan keputusan dengan kinerja pamong belajar SKB di Sulawesi Selatan. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mendeskripsikan hubungan gaya kepemimpinan dengan kinerja pamong belajar SKB di Sulawesi Selatan.
2. Mendeskripsikan hubungan antara efektifitas komunikasi dengan kinerja pamong belajar SKB di Sulawesi Selatan.
3. Mendeskripsikan hubungan antara pengambilan keputusan dengan kinerja pamong belajar SKB di Sulawesi Selatan.
4. Mendeskripsikan hubungan antara gaya kepemimpinan, pola komunikasi dan pengambilan keputusan secara bersama-sama dengan kinerja pamong belajar SKB di Sulawesi Selatan.
Kesimpulan
1. Hasil pembuktian terhadap hipotesis pertama yang berbunyi terdapat hubungan yang signifikan antara gaya kepemimpinan kepala sanggar dengan kinerja pamong belajar SKB di Sulawesi Selatan ternyata diterima pada taraf kepercayaan 95%. Penelitian ini menunjukkan bahwa semakin baik atau tepat gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh kepala sanggar, maka akan diikuti dengan semakin meningkatnya kinerja pamong belajar.
2. Hasil pembuktian terhadap hipotesis kedua yang berbunyi terdapat hubungan yang signifikan antara efektivitas komunikasi dengan kinerja pamong belajar SKB di Sulawesi Selatan diterima pada taraf kepercayaan 95%. Penelitian ini menunjukkan bahwa semakin efektif komunikasi yang dilakukan oleh kepala sanggar, maka akan diikuti dengan semakin meningkatnya kinerja pamong belajar.
3. Hasil pembuktian terhadap hipotesis ketiga yang berbunyi terdapat hubungan yang signifikan antara pengambilan keputusan dengan kinerja pamong belajar SKB di Sulawesi Selatan ternyata diterima pada taraf kepercayaan 95%. Dengan demikian dapat katakan bahwa tinggi rendahnya kinerja pamong belajar dipengaruhi oleh kemampuan pengambilan keputusan kepala sanggar. semakin tepat dan adil pengambilan keputusan yang dilakukan oleh kepala sanggar, maka ada kecenderungan diikuti oleh peningkatan kinerja pamong belajar.
4. Hasil pembuktian terhadap hipotesis keempat yang berbunyi terdapat hubungan yang signifikan antara gaya kepemimpinan kepala sanggar, efektivitas komunikasi dan pengambilan keputusan secara bersama-sama dengan kinerja pamong belajar SKB di Sulawesi Selatan diterima pada taraf kepercayaan 95%. Penelitian ini menunjukkan bahwa secara bersama-sama (simultan) semakin baik atau tepat gaya kepemimpinan, semakin efektif komunikasi yang dilakukan kepala sanggar dan semakin tepat dan adil pengambilan keputusan kepala sanggar, maka diyakini dapat meningkatkan unjuk kerja atau kinerja pamong belajar.
5. Secara simultan gaya kepemimpinan kepala sanggar, efektivitas komunikasi, dan pengambilan keputusan memberi kontribusi sebesar 50,40% terhadap kinerja pamong belajar SKB di Sulawesi Selatan, dan berdasarkan hasil analisis data diketahui bahwa yang memberikan sumbangan paling besar adalah efektivitas komunikasi, kemudian pengambilan keputusan dan terkecil adalah gaya kepemimpinan.

1 komentar: